Minggu, 16 Januari 2011

Nilai sebuah kearifan

Bukti Aneh 3 X 8 = 23

⁠Sabtu, 15 Januari 2011 12.42 ⁠ Diposkan oleh Naruto-R
, 7 komentar

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik.

Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang.
Dia mendekat dan mendapati Penjual dan Pembeli kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24?"
Yan Hui mendekati Pembeli kain dan berkata:
"Sobat, 3x8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi".
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: "Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan".
Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"
Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"
Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu". Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.

Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3x8 = 23.
Yan Hui, kamu kalah. Berikan jabatanmu kepada dia." Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.
Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada Pembeli kain.
Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.

Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius
tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya.
Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.
Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai,
dan memberi Yan Hui dua nasehat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh." Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir,
kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu.
Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.

Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: "Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"
Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.
Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".
Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."
Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku.
Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu.
Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si Pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.
Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar-benar malu."

Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.



Cerita ini mengingatkan kita:
Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya.

Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.


Banyak hal ada kadar kepentingannya.
Janganlah gara-gara bertaruh mati-matian untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.
Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

* Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti)
* Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)
* Bersikeras melawan suami atau istri. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
(Suami atau istri tidak betah di rumah)
* Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Bisa-bisa kita kehilangan seorang tema

Jumat, 25 Desember 2009

merubah kultur budaya masyarakat yg salah: dimana letak etika budaya bangsa kita

merubah kultur budaya masyarakat yg salah: dimana letak etika budaya bangsa kita

dimana letak etika budaya bangsa kita

berbagai kejadian akhir- akhir ini tentu menjadikan kita bertanya tanya tentang jati diri bagsa kita. bangsa yang dikenal santun dan berbudaya, tepo seliro ( klau orang jawa bilang hee.hee) mulai luntur sejak gaungnya era reformasi. disaat orang bebas berpendapat seperti orang yang lepas dari belenggu pemasungan .seketika itu juga orang bebas berbicara seakan lepas dari aturan budaya ketimuran kita...
kasus prita dan luna maya tentunya menjadikan kita berkaca ... apa sebenarnya inti dari semua permasalahan itu .. tentu kita bisa intropeksi apa yang seharusnya kita lakukan hingga hal hal tersebut tidak perlu terjadi lagi jika kita ..............????????????????????????????????

Kamis, 16 Oktober 2008

meningkatkan SDM manusia kita di tengah tantangan globalisasi


amanat undang-undang dasar 1945 yg menyatakan ingin mencerdaskan kehidupan bangsa selama ini belum dapat sepenuhnya terpenuhi.masalah klasik yang sampai sekarang masih belum menemukan titik nadir penyelesaiannya.masih ditemui sekolah- sekolah yang rusak, fasilitas yg tak layak, kurangnya pemeratan guru serta masih adanya anak putus sekolah karna alasan ketiadaan biaya merupakan sekelumit bagian dari ruwetnya permasalahan pendidikan bangsa ini.UU telah mengamanatkan untuk akan mengalokasikan anggaran 20 % dari APBN .namun tampaknya itu masih jadi hal yang sulit untuk diterapkan sekarang ini mengingat masih banyaknya problem bangsa ini yang terus merundung seakan tiada berakhir.tak adil jika kita terus menyalahkan pemerintah akan hal ini , sebenarnya pemerintah bukannya tutup mata melihat permasalahan ini , arah perbaikan juga telah dijalankan meski masih ada kekurangan disana sisi.kesejahteraan guru menjadi sekian masalah problematika pendidikan ini. sebenarnya potensi guru indonesia tak kalah bersaing dengan negara lain.begitupun sumber daya manusia yg kita miliki.belum lama kita dengar pelajar kita mampu memperoleh medali emas di ajang olimpiade fisika internasional .itu adalah bukti bahwa sebenarnya kita mampu. dimasa lampau malaysia mendatangkan guru indonesia untk mengajar di sana .sekarang malaysia menjadi bangsa yg maju pendidikannya .adalah hal yg sangat aneh dulu negara lain belajar ke kita justru sekarang kita yang belajar ke negara lain untuk menuntut pendidikan.tuntutan kemajuan zaman membuat kita harus selangkah lebih maju.peningkatan kemampuan guru dengan sertifikasi sudah dimulai .penyediaan fasilitas coba terus di perbaiki...lalu kiranya apa yang masih menjadi hambatan bangsa ini untuk lebih maju.........???????? tentunya itu yang yang jadi bahan renungan kita .apa yang salah dengan pendidikan kita!!!!!!!

Rabu, 15 Oktober 2008

menuntut perubahan tanpa ada kejujuran diri sendiri

Disadari atau tidak keterbelengguan bangsa ini selama ini menimbulkan luapan perubahan di tengah masyarakat ..puluhan tahun terkengkang akan rezim orba seakan lepas menghirup udara kebebasan.namun tak jarang sikap kita justru tak berubah justru terbelenggu pada lingkaran stagnasi ...tak bisa di pungkiri perubahan bukan suatu hal yang instant seperti membalik sebuah telapak tangan..namun tentunya itu bukan alasan tuk kita memakluminya..mengingat sudah satu dasawarsa kita mencobanya.tengoklah keseharian kita tak jarang kita ingin menuntut akan kinerja pelayanan publik.kita ingin sebagai masyarakat kita dilayani bak seorang raja.karna gaji mereka berasal dr pajak yang kita bayarkan .tak dipungkiri msh ada memang para pegawai yg cenderung bekerja asal-asalan terkecuali ada komisi untuk mempercepat pekerjaannya .tentunya itu bukan menjadi tolak ukur semuanya .masih banyak pegawai berdedikasi tinggi terhadap kinerjanya.tak bisa semua kesalahan kita lemparkan pada mereka .ibarat pepatah" tak ada asap kalau tak ada api " kita pun sebenarnya turut andil menciptakan budaya yang demikian.masih ada sebagian masyarakat yang ingin semuanya bisa didapat instant hingga mereka cenderung memilih jalan pintas dengan menyuap untuk mencapai sesuatu.dengan alasan prosedur yg berbelit, susah, serta tak punya waktu karena kesibukan lain.hal ini yang menciptakan budaya negatif akan pelayanan publik susah untuk dihilangkan.padahal kalau kita semuanya mau mengikuti secara prosedural tentunya hal ini bisa diminimalkan. inilah cermin bagi kita. ibarat pameo " gajah dipelupuk mata tak tampak semut diseberang pulau tampak" sudah saatnya kita berubah.

Sabtu, 11 Oktober 2008

tuntutan masyarakat tanpa ada perubahan dr masyarakat

Ketika orang mendapati era kebebasan reformasi seiring tumbangnya rezim orde baru .masyarakat cenderung melepaskan euforia kebebasan yang tanpa batas...kebebasan yg terkekang setelah 32 tahun meluap hingga tanpa batasan...tuntutan perubahan atas segala kebijakan pemerintah yang cenderung berbau korupsi , kolusi dan nepotisme .masyarakat cenderung untuk bertindak anarkis dlm setiap giat aspirasi penyampaian pendapatnya..dan cenderung untuk bertindak demikian untuk memaksakan kehendaknya berlindung di balik aspirasinya ..tetapi kita memang tdk memungkiri itulah bagian dr peninggalan orde baru...yg sekarang menjadi gejolak menuju demokrasi yang lebih baik.akan tetapi ada satu hal yg justru terabaikan bahwa tingkat kedewasan masyarakat yg msh blum merata seakan menjadi cedera dlm iklim reformasi saat ini..mereka begitu mudah untuk di adu domba untuk kepentingan segelintir elit/ oknum yang yg mengatasanamakan rakyat padahal tanpa mereka sadari mereka cuman sebagai alat /tameng pencari kekuasaan